Bukan Bangsa Biasa (BBB)

Bukan Bangsa Biasa

Bukan Bangsa Biasa (BBB). Telah lebih satu dekade berlalu, reformasi yang kala itu digembor-gemborkan akan memberi arah perubahan peta politik negeri tidak lebih dari sekadar jamur di atas kotoran sapi. Putih bersih dan nampak indah terlihat, namun aromanya menyengat kerongkongan yang mengurai belenggu-belenggu ideologi menuju titik perubahan. (gambar)

Egoisme kekuasaan, hasrat untuk mengenggam kursi pemerintahan jadikan mereka lupa akan sumpah di bawah naungan kitab suci. Dengan mengatasnamakan rakyat , membela kepentingan bersama; kesemuanya itu hanyalah buaian hayalan mimpi semata.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan”. Musyawarah untuk mencapai mufakat tidak lagi diliputi oleh semangat kekeluargaan. Malah diselimuti oleh kepentingan-kepentingan terselebung. Kemana musyawarah yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan?

Bukan Bangsa Biasa (BBB), mungkin lebih pantas disematkan buat negeri ini. Memiliki kekayaan hayati yang berlimpah ruah, tapi masih bergantung dengan import ikan kering dari bangsa lain. Memiliki ribuan bahkan jutaan cendikiawan. Tetapi masih saja ada; segelintir orang yang memperjual belikan ilmu demi setetes air asin di hamparan samudera nusantara

Mari bersama jauhkan diri dari pikiran saling merendahkan, jauhkan diri dari pikiran saling menghina satu sama lain. Apa tidak cukup Tsunami di Aceh?, Apa tidak cukup letusan Gunung Sinabung di Sumatera? Apa tidak cukup Gempa yang meluluhlantakkan Saudara-Saudara kita di Jogya?. Apa tidak cukup Angin Puting Beliung memporak porandakan rumah Saudara-Saudara kita?
Bukan Bangsa Biasa (BBB) | aldinosya | 4.5