Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Di Ilmu Pengetahuan, Pendidikan 1616 views

Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

1. Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini memberikan pelajaran bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa sebagai makhluk, maka manusia Indonesia berkewajiban untuk percaya dan beribadah kepada Tuhan sesuai dengan agaa dan kepercayaannya masing-masing.[1] Namun, pada dasarnya sila pertama ini menunjukkan makna islam, karena disitu memuat kata Esa. Hanya ada satu Tuhan yang hak dan wajib disembah, yaitu Allah. sesuai dengan tauhid islam dalam lafal laa ilaaha illallahu yang artinya tiada tuhan kecuali Allah.

Ibadah qurban merupakan wujud implementasi atau realisasi dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Kita yang beragama islam harus merealisasikan keimanan kita dengan perbuatan, salah satunya adalah dengan qurban. Namun ibadah qurban ini hanya diperuntukkan bagi muslim yang sudah mampu. Karena agama islam tidak pernah memberatkan pemelukna. Seperti termaktub dalam ayat berikut ini,

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”, (Q.S. Al-Baqarah: 286).

 

Pada masa sekarang ini, banyak penyalah gunaan ibadah qurban. Tidak jarang orang sekarang berqurbuan tujuannya hanya ingin dipandang wah oleh orang lain, tidak karena ingin mendekatkan diri dan mendapatkan ridlo Allah. Unsur riya inilah yang menodai amalannya, sehingga apa yang telah diperbuat itu hanyalah sia-sia. Dan fenomena ini lebih banyak terjadi di daerah perkotaan, karena persaingan hidup. Sedangkan di daerah pedesaan, fenomena semacam ini sangat minim terjadinya. Karena pada kenytaannya di desa tidak setiap tahun orang berqurban. Mereka akan berqurban jika telah mampu untuk membeli hewan qurban, dan itupun langsung diserahkan (dalam istilah jawa dipasrahkan) kepada pengasuh masjid maupun musholla. Berbeda dengan di daerah perkotaan, orang-orang setiap tahunnya berqurban dan disembelih di rumah masing-masing, bukan diserahkan ke pengurus masjid atau musholla. Kita sendiri tidak tahu apa niat awal dari mereka. Namun, yang orang-orang kota lakukan terlihat seperti persaingan hidup, tidak mau kalah dengan yang lain. Hanya Allah yang mengetahui niatan dari seseorang.

Jika ibadah qurban digunakan sebagai persaingan hidup dan ingin dipandang wah oleh orang lain, tentu ini telah menyalahi sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena nilai dari sila pertama ini adalah sesuatu apapun itu harus digantungkan atas nama Tuhan (Allah) sebagai wujud keimanan kita. Ketika seseorag telah mampu memegang nilai sila pertama ini, maka setiap akan melakukan suatu perbuatan dia akan menata niatnya ikhlas hanya karena Allah. Sehingga perbuatannya tidak menyalahi sila pertama, dan perbuatan tersebut bermanfaat untuk dirinya.

[1] Khoirul Anam, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi, (Yogyakarta: Inti Media, 2011), hlm. 43.

Tags: #Ibadah Qurban #Ketuhanan Yang Maha Esa #Pandangan Pancasila

Penulis: 
Foto profil Penulis dan Deskripsi tentang Penulis, silahkan bisa dilengkapi.
Penyebab dan gejala sifilis yang harus diketahui
Penyebab dan gejala sifilis yang harus diketahui
Sifilis dapat disembuhkan jika dideteksi secara dini,
Mari Mengenal Simbol-Simbol Obat
Sering sakit dan sering membeli obat di
Kehamilan dan Segala Keluhannya yang Patut Disyukuri
Bagaimana reaksi anda ketika tahu anda hamil?
Coklat, Si Manis dengan Sejuta Manfaat
Apakah anda penggemar coklat? coklat yang akam

Tinggalkan pesan "Ibadah Qurban Dalam Pandangan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.


Top